Total Tayangan Halaman

Selasa, 24 Januari 2017

Contoh soal Matematika



1.      Hasil dari 23 + 2.354 – 1.231 = ……..
a.       1.146
b.      1.154
c.       1.545
d.      3.450
2.      Hasil dari 15 x 58 x 6 : 4 = ………
a.       1.305
b.      870
c.       348
d.      305
3.      7.632 : (-72 ) + 24 – 6 = ………
a.       -72
b.      -88
c.       106
d.      142
4.      Saidah mempunyai uang Rp. 75.000,- diberikan lepada adiknya Rp. 25.000,-. Keesokan harinya Saidah diberikan uang oleh pamannya. Sehingga uang Saidah menjadi Rp. 225.000,-. Uang yang di tarima Saidah dari pamannya hádala ……
a.       Rp. 50.000,-
b.      Rp. 100.000,-
c.       Rp. 175.000,-
d.      Rp. 425.000,-
5.      Pak Lurah membagikan 3.456 kg beras kepada 6 kelompok tani. Jika tiap kelompok tani terdiri atas 8 orang maka tiap orang menerima beras sebanyak ……… kg.
a.       48 kg                  
b.      68 kg                  
c.    72 kg
d.   82 kg

6.   Pak Akim menjual kambing dengan harga Rp. 1.100.000,-. Dia mendapat untung 10%, maka harga pembelian kambing tersebut adalah ……..
a.    Rp. 900.000,-
b.   Rp. 990.000,-
c.   Rp. 1.000.000,-
d.   Rp. 1.200.000,-
7.   Kelipatan pesekutuan terkecil dari bilangan 10 : 15 dan 30 adalah …….
a.    5
b.   10
c.   15
d.   30
8.   Dedy mengikuti les matematika setiap 3 hari, Wati setiap 5 hari, jika mereka mulai les pada tangga 3 April, maka mereka akan bersama-sama berikutnya pada tanggal …….
a.       15 april
b.       16 april
c.       17 april
d.   18 april

Latihan Memasukkan Vidio Pembelajaran


Rabu, 18 Januari 2017

KELAS YANG MENYENANGKAN DAN BERPRESTASI



Sebuah kelas yang hidup menjadi tujuan semua guru yang mengajar dengan hati. Mengajar dengan hati berarti mendahulukan kepentingan siswa. Guru lakukan segala cara agar siswa bisa paham dan mengerti saat ia mengajar. Jaman kita dahulu bersekolah, paham yang guru ajarkan berarti mampu menghafal dan bisa mengerjakan soal. Jaman sekarang kedua hal tersebut bukan lagi menjadi ukuran. 
Ukuran yang dipakai sekarang apakah siswa melaksanakan prosesnya dengan baik dan bukan sekedar mendapatkan jawaban yang betul. Guru juga diminta untuk membuat siswa bisa menunjukkan cara berpikirnya hingga bisa mendapatkan jawaban yang betul. Artinya proses dan hasil sama-sama pentingnya. Bukan jamannya lagi memaksa siswa untuk bisa mengerti dan belajar sesuai yang guru inginkan. Malah guru yang mesti menyesuaikan diri pada gaya belajar siswa.



Beberapa strategi dibawah ini akan menolong dan membantu anda dalam membuat kelas yang hidup dan membuat siswa secara sukarela terlibat dalam pembelajaran yang anda lakukan di kelas.

Bekerja secara berpasangan atau dalam kelompok.
Cara ini sangat dianjurkan dalam membuat siswa mau berbagi dan saat yang sama mendapatkan ide dari rekan sebayanya. Dengan bekerja dalam kelompok siswa diharapkan untuk aktif dan punya kemampuan bekerja sama dalam tim. Sebuah keahlian yang dibutuhkan di masa depan. Beberapa strategi dalam pembelajaran jenis ini adalah
Think pair share, bekerja dengan siswa yang lebih senior, siswa memeriksa hasil pekerjaan dan mengajari temannya (peer teaching) tentunya dengan pengawasan guru. 
Bekerja dalam kelompok juga akan menjadi alternatif dari pemberian tugas pada siswa yang biasanya dikerjakan secara individu menjadi tugas yang membuat siswa berinteraksi satu sama lain. Guru juga bisa mengundang kelas yang lebih besar atau kelas yang lebih kecil untuk bekerja sama dan melakukan kegiatan bersama. Tentu saja ini membutuhkan perencanaan yang matang karena melibatkan kelas dan guru lain untuk terlibat. Dengan belajar bersama kelompok umur yang berbeda siswa menjadi belajar mengerti dan menghormati teman yang berbeda umur.

Mengatur pola komunikasi di kelas.
Seorang guru yang berada di kelas adalah seorang dewasa yang tingkah laku dan tutur katanya akan menjadi rujukan bagi siswanya. Saat guru mengajar di kelas ia sebenarnya sedang melakukan proses komunikasi. Sebaik-baiknya proses komunikasi adalah bersifat dua arah dan saling menghormati, karena hal itu juga yang terjadi di dunia nyata. Guru yang baik memberikan pengalaman yang nyata bagi siswanya, agar saat di luar kelas siswanya menjadi seorang pribadi yang siap berkomunikasi dan bergaul dengan siapa saja. 

Kelas yang hidup di dalamnya terdapat pola komunikasi yang mendalam, sehat dan bermakna, caranya antara lain;
  • Membiasakan bersikap positif pada semua pendapat yang ada di kelas. Tidak ada pertanyaan atau pendapat yang ‘bodoh’ yang ada guru mesti tanamkan ‘berpikir dahulu sebelum berbicara’. Jika siswa terbiasa berbicara dan mendengarkan orang lain, akan tumbuh rasa percaya diri dan kesenangan untuk berkomunikasi dan berbagi ilmu dengan siapa saja.
  • Guru membiasakan diri untuk diam sejenak setelah bertanya di depan kelas pada semua siswanya. Ia memberikan waktu pada siswanya untuk berpikir dan mencerna pertanyaannya. Memang tidak mudah bagi guru lakukan ini karena biasanya ia ingin jawaban yang cepat dan benar. Guru juga bisa meminta siswa untuk berdiskusi dengan rekan sebangkunya sebelum menjawab pertanyaan. Kelas yang berhasil adalah kelas yang hampir semua siswanya pernah bertanya dan menjawab sekali dalam sehari. Banyak siswa yang memilih diam bukan karena ia tidak tahu tapi karena kurang keberanian dalam berbagi ide.
  • Usahakan terus agar siswa mau menjelaskan cara berpikirnya serta alasan-alasan yang dimilikinya saat menjawab pertanyaan atau soal. Mulai sekarang jangan sekedar harapkan siswa untuk sekedar menjawab, tetapi juga harapkan siswa untuk lancar dan runut menjelaskan cara ia berpikir dan menemukan jawaban. Hal ini berguna saat siswa dewasa ia akan menjadi seorang pribadi yang berpikir runut dan bisa ditangkap dengan baik oleh lawan bicara. Jika di kelas anda ada papan tulis kecil akan lebih baik, benda tersebut akan membantu siswa untuk menjelaskan pikirannya.
   Semua hal diatas hanya akan bisa berhasil jika guru berkenan dan mau menjadikan kelasnya sebagai kelas yang menyenangkan untuk siswa dalam menyerap dan berekspresi dalam belajar. Jadi selamat mengajar kelas yang hidup dan menjadi guru yang terinspirasi dan menginspirasi siswa saat bersamaan.

Selasa, 17 Januari 2017

Belajar dan Pembelajaran




Istilah belajar sudah terlalu akrab dengan kehidupan kita sehari-hari.   Di masyarakat,  kita sering menjumpai penggunaan istilah belajar seperti:  belajar membaca,  belajar bernyanyi, belajar berbicara, belajar matematika.   Masih banyak lagi   penggunaan istilah, bahkan  termasuk kegiatan belajar yang sifatnya lebih umum dan tak mudah diamati, seperti: belajar hidup mandiri, belajar menghargai waktu, belajar berumah-tangga, belajar bermasyarakat, belajar mengendalikan diri, dan sejenisnya. 

Kalangan awampun mengetahui makna berbagai istilah belajar tersebut.   Jika kebetulan Anda adalah seorang guru, maka Anda   tidak cukup hanya memahami makna belajar sebagaimana masyarakat awam. Mengapa? Karena memang tugas utama kita sebagai guru adalah membuat orang  belajar.  Lalu ,  apa sebenarnya belajar itu? Belajar, merupakan kegiatan yang terjadi pada semua orang tanpa mengenal batas usia, dan berlangsung seumur hidup. Belajar merupakan usaha yang dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya untuk merubah perilakunya. Dengan demikian, hasil dari kegiatan belajar  adalah berupa perubahan perilaku yang relatif permanen pada diri  orang yang belajar.  Tentu saja, perubahan yang diharapkan adalah perubahan ke arah yang positip. Jadi, sebagai pertanda bahwa seseorang telah melakukan proses belajar adalah  terjadinya  perubahan perilaku pada diri orang tersebut. Perubahan perilaku tersebut,  misalnya, dapat berupa : dari tidak tahu sama sekali menjadi samar-samar, dari kurang mengerti menjadi mengerti, dari tidak bisa menjadi terampil, dari anak pembangkang menjadi penurut, dari pembohong  menjadi jujur, dari kurang taqwa menjadi lebih taqwa, dll.  Jadi,  perubahan sebagai hasil kegiatan belajar  dapat berupa aspek kognitif, psikhomotor maupun afektif.

Kegiatan belajar, sering dikaitkan dengan kegiatan mengajar.  Begitu eratnya kaitan itu, sehingga keduanya sulit dipisahkan.  Dalam percapakan sehari-hari kita secara spontan  sering mengucapkan istilah  kegiatan “belajar-mengajar” menjadi satu kesatuan.  Bahwa kedua kegiatan tersebut berkaitan erat adalah benar. Namun, benarkah  bahwa agar terjadi kegiatan belajar harus selalu ada orang yang mengajar?  Benar pulakah bahwa setiap kegiatan mengajar pasti selalu menghasilkan kegiatan belajar ? Jawabannya : belum tentu.  Artinya, dalam setiap kegiatan belajar tidak harus selalu ada orang yang mengajar.

Kegiatan belajar bisa saja terjadi walaupun tidak ada kegiatan mengajar. Begitu pula sebaliknya, kegiatan mengajar tidak selalu dapat menghasilkan kegiatan belajar. Ketika Anda menjelaskan  pelajaran di depan  kelas misalnya, memang terjadi kegiatan mengajar.  Tetapi, dalam kegiatan itu tak ada jaminan telah terjadi kegiatan belajar pada  setiap siswa yang Anda ajar.  Kegiatan mengajar    dikatakan berhasil hanya apabila  dapat mengakibatkan / menghasilkan  kegiatan belajar pada diri siswa.  Jadi, sebenarnya hakekat guru mengajar adalah usaha guru  untuk membuat siswa  belajar.  Dengan kata lain, mengajar merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar. Istilah pembelajaran   lebih menggambarkan  usaha guru untuk  membuat belajar para siswanya. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para siswanya.   Kegiatan belajar hanya bisa berhasil jika si belajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Seorang guru tidak dapat “mewakili” belajar untuk  siswanya.   Seorang siswa belum dapat dikatakan telah belajar hanya karena ia sedang berada dalam satu ruangan dengan guru  yang sedang mengajar.  Ada satu syarat mutlak yang harus dipenuhi agar terjadi kegiatan belajar. Syarat itu adalah adanya interaksi antara pebelajar (learner) dengan sumber belajar.  Jadi, belajar hanya terjadi jika dan hanya jika terjadi interaksi antara pebelajar dengan sumber belajar. Tanpa terpenuhi syarat itu, mustahil kegiatan belajar akan terjadi. 

Pekerjaan mengajar tidak selalu harus diartikan sebagai kegiatan menyajikan materi pelajaran. Meskipun menyajikan materi pelajaran memang merupakan  bagian dari kegiatan mengajar, tetapi bukanlah satu-satunya. Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan guru untuk membuat siswa  belajar.  Peran yang seharusnya dilakukan guru adalah mengusahakan agar setiap siswa dapat  berinteraksi secara aktif dengan berbagai sumber belajar yang ada.  Guru hanya  merupakan salah satu (bukan satu-satunya)  sumber belajar bagi siswa. Selain guru, masih banyak lagi  sumber-sumber belajar yang lain. Lalu, apa sebenarnya sumber belajar itu?

Pada hakekatnya, alam semesta ini merupakan sumber belajar bagi manusia  sepanjang massa.  Jika Anda sependapat dengan asumsi ini, maka pengertian sumber belajar merupakan konsep yang sangat luas meliputi segala yang ada di jagad raya ini. 
Menurut Asosiasi Teknologi Komunikasi Pendidikan (AECT), sumber belajar adalah semua sumber (baik berupa data, orang atau benda) yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas (kemudahan) belajar bagi siswa.  Sumber belajar itu meliputi pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan lingkungan/latar.  

Ditinjau dari  asal usulnya, sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: sumber belajar yang dirancang (learning resources by design) yaitu sumber belajar yang memang sengaja dibuat untuk tujuan pembelajaran.     Contohnya adalah : buku pelajaran, modul, program audio,  transparansi (OHT). Jenis sumber belajar  yang kedua adalah sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan ( learning resources by utilization), yaitu sumber belajar  yang  tidak secara khusus dirancang untuk keperluan pembelajaran, namun dapat ditemukan, dipilih dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Contohnya: pejabat pemerintah, tenaga ahli, pemuka agama, olahragawan, kebun binatang, waduk, museum, film, sawah, terminal, surat kabar, siaran televisi, dan masih banyak lagi yang lain. Jadi, begitu banyaknya sumber belajar yang ada di seputar kita yang semua itu dapat kita  manfaatkan untuk keperluan belajar.  Sekali lagi, guru hanya merupakan salah satu dari sekian banyak sumber belajar yang ada.    Bahkan guru hanya salah satu sumber belajar  yang berupa orang, selain petugas perpustakaan, petugas laboratorium,  tokoh-tokoh masyarakat, tenaga ahli/terampil, tokoh agama, dll. Oleh karena setiap anak  merupakan individu yang unik (berbeda satu sama lain),  maka sedapat mungkin guru memberikan perlakuan  yang sesuai dengan karakteristik masing-masing siswa.  Dengan begitu maka diharapkan kegiatan mengajar benar-benar membuahkan kegiatan belajar pada diri setiap siswa. Hal ini dapat dilakukan kalau guru berusaha menggunakan berbagai sumber belajar secara bervariasi dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada siswa untuk berinteraksi dengan sumber-sumber belajar yang ada. 

Hal yang perlu diperhatian adalah, agar bisa terjadi  kegiatan belajar pada siswa, maka siswa harus  secara aktif melakukan  interaksi dengan berbagai sumber belajar. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar hanya mungkin  terjadi jika ada interaksi antara  siswa dengan  sumber-sumber belajar. Dan inilah yang seharusnya diusahakan  oleh setiap pembelajar (instructor, guru) dalam kegiatan pembelajaran. Peran guru adalah menyediakan, menunjukkan, membimbing dan memotivasi siswa agar mereka dapat berinteraksi  dengan berbagai sumber belajar yang ada.  Bukan hanya sumber belajar yang berupa orang , melainkan juga sumber-sumber belajar yang lain.  Bukan hanya sumber belajar yang sengaja dirancang khusus, melainkan juga sumber belajar yang tinggal dimanfaatkan. Semua sumber belajar itu dapat kita temukan, kita pilih dan kita manfaatkan sebagai sumber belajar bagi siswa kita.    

Wujud interaksi antara siswa dengan sumber belajar dapat bermacam-macam. Cara  belajar dengan mendengarkan ceramah dari guru memang merupakan salah satu wujud interaksi tersebut. Namun belajar hanya dengan  mendengarkan saja, patut diragukan  efektifitasnya.  Belajar hanya akan efektif jika si belajar diberikan banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu, melalui multi-metode dan multi-media.  Melalui berbagai metode dan media pembelajaran, siswa akan dapat banyak berinteraksi secara aktif dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki siswa.    Barang kali perlu kita renungkan kembali ungkapan China :  Saya mendengar saya lupa, Saya melihat  saya ingat,  Saya berbuat  maka saya bisa.